Arsip untuk Mei, 2012

kang min hyuk

Posted: Mei 21, 2012 in Uncategorized

kang min hyuk

gimana ekspresinya?? ūüėÄ

Iklan

PSIKOLOGI SIGMUND FREUD

Posted: Mei 21, 2012 in Uncategorized

Image

Freud adalah seorang bangsa Jerman keturunan Yahudi. Dilahirkan pada tanggal 6 Mei 1856 di kota Moravia Freiberg. Hanya empat tahun dia bertempat tinggal di Cekoslavia, kemudian pindah ke Wina, Austria. Dia melanjutkan kuliah kedokteran di Wina pada tahun 1873. Antara tahun 1876-1882, ia membantu di laboratorium fisiologi di Wina yang dipimpin oleh Ernest Brucke hingga Freud mendapatkan gelar dokter dalam urat syaraf.

 

Tahun 1885 ia menjabat sebagai guru besar urat syaraf di Wina. Tetapi ilmunya dirasa kurang, maka ia belajar lagi di Paris pada Prof. Charcot, seorang dokter berkebangsaan Prancis. Dia terkesan dengan pemikiran Charcot terutama dengan percobaan Charcot untuk menyembuhkan kelumpuhan akibat histeria dengan ilmu hipnotis. Kemudian dia kembali ke Wina dan bekerjasama dengan seorang dokter urat syaraf dan penyakit hysteri, bernama Breuer. Freud meninggal pada tanggal 23 September  1923.

 

Teori yang dikemukakan oleh Freud yaitu psikoanalisa atau disebut juga aliran psikologi dalam (depth psychology). Freud membagi pikiran kedalam conciousness: kesadaran, preconciousness: pra-kesadaran, dan unconciousness: ketidaksadaran. Freud mengembangkan konsep struktur pikiran itu dengan mengembangkan ‚Äėmind apparatus‚Äô, yaitu yang dikenal dengan struktur kepribadian Freud dan menjadi konstruknya yang terpenting yaitu:

 

  1. Id: struktur paling mendasar dari kepribadian, seluruhnya tidak disadari dan bekerja menurut prinsip kesenangan, bertujuan memenuhi pemuasan yang segera (makan, minum, dll).
  2. Ego: struktur kepribadian yang mengontrol kesadaran dan mengambil keputusan atas perilaku manusia.
  3. Super ego: merefleksikan nilai-nilai sosial dan menyadarkan individu atas tuntutan moral. Apabila terjadi pelanggaran nilai, super ego menghukum ego dengan menimbulkan rasa salah.

 

Selain itu teori Freud disebut juga sebagai teori psikodinamik (dynamic psychology), karena ia menekankan pada dinamika atau gerak mendorong dari dorongan-dorongan dalam ketidaksadaran itu kedalam posisi sadar.

 

          Karya-karya Sigmund Freud yaitu: The Interpretation of Dream (1899),  Beyond the Pleasure Principle, Civilisation and Its Discontents.

 

 

 

.Referensi:

 

Sarwono, Sarlito Wirawan.1986. Berkenalan dengan Aliran-Aliran dan Tokoh-Tokoh Psikologi. Jakarta: PT.Bulan Bintang.

 

Suyanto,Agus.1993.Psikologi Umum.. Jakarta : Bumi aksara

 

Turnbull,Neil.2005.Bengkel Filsafat: Jakarta : Erlangga

 

http://www.tnol.co.id/id/uptodate/7922-buku-sigmund-freud.html

 

A. Pengertian

Kebenaran adalah satu nilai utama dalam kehidupan bermasyarakat. Berdasarkan scope potensi subjek, maka susunan tingkatan kebenaran itu menjadi:

1. Tingkatan kebenaran indera adalah tingakatan yang paling sederhana dan pertama yang dialami manusia.

2. Tingkatan ilmiah, pengalaman-pengalaman yang didasarkan melalui indera dan  diolah dengan rasio.

3. Tingkat filosofis, yaitu rasio dan pikir murni, renungan yang mendalam mengolah kebenaran itu semakin tinggi nilainya.

4. Tingkatan religius, kebenaran mutlak yang bersumber dari Tuhan Yang Maha Esa dan dihayati oleh kepribadian dengan integritas dengan iman dan kepercayaan.

B. Teori Kebenaran Menurut Filsafat

Ada lima teori kebenaran menurut ilmu filsafat, yaitu:

 

1. Teori Korespondensi ( The Corespondence Theory of Truth  )

Teori kebenaran yang pertama adalah teori korespondensi. Teori ini kadang disebut The Accordance Theory of Truth. Teori ini  menjelaskan bahwa suatu kebenaran atau sesuatu keadaan benar bila ada kesesuaian antara arti yang dimaksud suatu pernyataan atau pendapat dengan objek yang dituju  atau dimaksud oleh pernyataan atau pendapat tersebut. Sebagai contoh, Universitas Islam Negri Sunan Kalijaga berada di kota Yogyakarta sekarang ini. Ini adalah sebuah pernyataan, dan apabila Universitas Islam Negri Sunan Kalijaga berada di Yogyakarta, berarti pernyataan tersebut benar, sehingga pernyataan tersebut merupakan suatu kebenaran.

Jadi berdasarkan teori korespondensi ini, kebenaran atau keadaan dapat dinilai dengan membandingkan antara preposisi dengan fakta atau kenyataan yang berhubungan. Apabila keduanya terdapat kesesuaian (correspondence), maka preposisi tersebut dapat dikatakan memenuhi standar kebenaran. Teori ini sering dianut oleh realisme atau empirisme. K. Roger adalah seorang penganut realisme kritis Amerika, dengan pendapatnya ‚Äúkeadaan benar ini terletak dalam kesesuaian antara esensi atau arti yang kita berikan dengan esensi yang terdapat dalam objeknya‚ÄĚ.

Rumusan teori ini bermula dari Aristoteles (384-322) dan disebut sebagai penggambaran yang definisinya berbunyi ‚Äúveritasest adaequation intelctuset‚ÄĚ yang artinya kebenaran adalah penyesuaian antara pikiran dan kenyataan yang kemudian teori ini dikembangkan oleh Bertrand Russel (1872-1970) pada zaman modern.1

 

2. Teori Koherensi (The Coherence Theory of Truth)

Merupakan teori kedua dari teori kebenaran. Teori ini sering disebut The Consistense Theory of Truth. Teori ini merupakan suatu usaha pengujian (test) atas arti kebenaran. Suatu keputusan adalah benar apabila putusan itu konsisten dengan putusan-putusan yang lebih dulu kita terima, dan kita ketahui kebenarannya. Putusan yang benar adalah suatu putusan yang saling berhubungan secara logis dengan putusan-putusan lainnya yang relevan.

            Teori ini dipandang sebagai teori ilmiah yaitu yang sering dilakukan dalam sebuah penelitian dalam pengukuran suatu pendidikan. Teori koherensi ini tidak [1]bertentangan dengan teori korespondensi. Kedua teori ini lebih bersifat melengkapi. Teori koherensi adalah pendalaman dan kelanjutan yang teliti dari teori korespondensi. Teori koherensi menganggap suatu pernyataan benar bila didalamnya tidak ada pertentangan, bersifat koheren dan konsisten dengan pernyataan sebelumnya yang telah dianggap benar. Dengan demikian suatu pernyataan dianggap benar, jika pernyataan itu dilaksanakan atas pertimbangan yang konsisten dan pertimbangan lain yang telah diterima kebenarannya.

                Contoh dari teori ini misalnya apabila seseorang berbohong dalam beberapa hal, maka untuk menyelidikinya dengan menunjukkan bahwa apa yang dikatakan tidak cocok dengan hal-hal lain yang telah dikatakannya atau dikerjakannya.[2]

¬†¬†¬†¬† ¬†¬†¬†¬†¬†¬† Paham koherensi tentang kebenaran biasanya dianut oleh para pendukung idealisme, seperti filsuf Britania F.H. Bradley (1846-1924). Teori ini sudah ada sejak pra Socrates, kemudian dikembangkan oleh Benedictus Spinoza dan Goerge Hegel. Penganut idealisme juga melakukan pendekatan masalah tersebut melalui epistemologinya Karena praktek sesungguhnya yang kita kerjakan tidak hanya menunjukkan bahwa ukuran kebenaran ialah keadaan saling- berhubungan, melainkan juga jawaban terhadap pertanyaan ‚ÄúApakah halnya yang kita ketahui?‚ÄĚ Hal ini memaksa kita untuk menerima paham tentang kebenaran diatas.

3. Teori Pragmatik ( The Pragmatic Theory of Truth )

¬†¬†¬†¬† Teori yang ketiga adalah teori pragmatik. Menurut William James dalam suatu kuliahnya mengatakan bahwa pragmatik berasal dari bahasa Yunani ‚Äúpragma‚ÄĚ yang berarti tindakan atau action. Dari istilah practice dan practical dikembangkan dalam bahasa Inggris. Teori ini kadang-kadang disebut teori inherensi ( Inherent Theory of Truth ). Pandangannya adalah suatu proposisi bernilai benar apabila mempunyai konsekuensi yang dapat dipergunakan atau bermanfaat.

            Kattsof (1986) menguraikan tentang teori kebenaran pragmatis ini bahwa penganut pragmatisme meletakkan ukuran kebenaran dalam salah satu jenis konsekuensi. Atau proposisi itu dapat membantu untuk mengadakan penyesuaian yang memuaskan terhadap pengalaman, pernyataan, itu adalah benar. [3]

            Pragmatisme menguji kebenaran dalam praktek yang dikenal para pendidik sebagai metode proyek atau metode problem solving dalam pengajaran. Mereka akan benar-benar hanya jika mereka berguna mampu memecahkan masalah yang ada. Artinya sesuatu itu benar, jika mengembalikan pribadi manusia dalam keseimbangan dalam keadaan tanpa persoalan dan kesulitan. Sebab tujuan utama pragmatisme adalah agar manusia selalu ada didalam keseimbangan, untuk ini manusia harus mampu melakukan penyesuaian dengan tuntutan-tuntutan lingkungan.

            Kaum pragmatis menggunakan kriteria kebenaran dengan kegunaan (utility) dapat dikerjakan (workbility) dan akibat yang memuaskan (satisfaktor consequence). Oleh karena itu tidak adda kebenaran yang mutlak atau tetap, kebenarannya tergantung  pada manfaat dan akibat. Akibat atau hasil yang memuaskan bagi kaum pragmatis adalah:

  1. Sesuai dengan keinginan dan tujuan.
  2. Sesuai dengan keterujian suatu eksperimen.
  3. Ikut membantu dan mendorong perjuangan untuk tetap eksis (ada).

            Teori ini diperkenalkan oleh Charles S. Pierce (1914-1939) dalam artikelnya yang berjuudul How to Make Our Ideas untuk pertama kalinya dan diikuti oleh William James dan John Dewey (1852-1859). James misalnya menekankan bahwa suatu ide itu benar terletak pada konsekuensi, pada hasil tindakan yang dilakukan. Bagi Dewey konsekuensi tidaklah terletak didalam ide itu sendiri, melainkan dalam hubungan ide dengan konsekuensinya setelah dilakukan. Teori Dewey bukanlah mengerti objek secara langsung (teori korespondensi) atau cara tidak langsung melalui kesan-kesan dari realita (teori konsistensi), melainkan mengetahui segalanya melalui praktek dalam problem solving.

            Ostwald seorang kimiawan dari Leipzig pernah pula memberi kuliah filsafat dan menggunakan prinsip pragmatisme. Menurut Ostwald bahwa semua realita memberi pengaruh pada sikap dan pengaruh itulah yang  disebut dengan pengertian. Ketertarikan James dengan ajaran pragmatisme yang dikemukakan Ostwald, ia mengemukakan pula bahwa pragmatisme telah mengemukakan suatu sikap yang lengkap bagi filsafat. Apa yang dikatakan  suatu kebenaran bagi James, bahwa kebenaran adalh sebagian daropada apa yang disebut baik.

¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Pada akhirnya, James menyimpulkan: ‚Äúhow could pragmatism possibly deny God‚Äôs existence?‚ÄĚ[4]……… bagaimana mungkin pragmatisme dapat menyangkal adanya Tuhan sebagai pencipta alam semesta.

4. Teori Performatif (The Performatif Theory of Truth)

            Teori ini menyatakan bahwa kebenaran diputuskan atau dikemukakan oleh pemegang oleh pemegang otoritas tertentu. Contoh pertama mengenai penetapan 1 Syawal. Sebagian muslim di Indonesia mengikuti fatwa atau keputusan MUI atau  pemerintah, sedangkan sebagian yang lain mengikuti fatwa ulama tertentu atau organisasi tertentu. Contoh kedua adalah pada masa rezim orde lama berkuasa, PKI mendapat tempat dan nama yang baik di masyarakat. Ketika rezim orde baru, PKI adalah partai terlarang dan semua hal yang berhubungan atau memiliki atribut PKI tidak berhak hidup di Indonesia. Contoh lainnya pada masa pertumbuhan ilmu, Copernicus (1473-1543) mengajukan teori heliosentris dan bukan sebaliknya seperti yang difatwakan gereja. Masyarakat menganggap hal yang benar adalah apa-apa yang diputuskan oleh gereja walaupun bertentangan dengan bukti-bukti empiris.

            Dalam fase hidupnya, manusia kadang kala harus mengikuti kebenaran performatif. Pemegang otoritas yang menjadi rujukan bisa pemerintah, pemimpin agama, pemimpin adat, pemimpin masyarakat, dan sebagainya. Kebenaran performatif dapat membawa kepada kehidupan sosial yang rukun, kehidupan beragama yang tertib, adat yang stabil, dan sebagainya.

            Masyarakat yang mengikuti kebenaran performatif tidak terbiasa berpikir kritis dan rasional. Mereka kurang inisiatif dan inovatif, karena terbiasa mengikuti kebenaran pemegang otoritas. Pada beberapa daerah yang masyarakatnya masih sangat patuh pada adat, kebiasaan ini seakan-akan kebenaran mutlak. Mereka tidak berani melanggar keputusan pemimpin adat dan tidak terbiasa menggunakan rasio untuk mencari kebenaran.[5]

  1. 5.      Teori Struktural (The Structural Theory of Truth)

          Teori ini menyatakan bawa suatu teori dinyatakan benar jika teori itu berdasarkan pada paradigma atau pwerspektif tertentu dan ada komunitas imuwan yang mengakui atau  mendukung paradigm tersebut Banyak sejarawan dan filosof sains masa kini menekankan bahwa serangkaian fenomena atau realitas yang dipilih untuk dipelajari oleh kelompok ilmiah tertentu ditentukan  oleh pandangan tertentu tentang realitas yang telah diterima secara apriori oleh kelompok tersebut. Paradigma adalah apa yang dimiliki bersama oleh anggota-anggota suatu masyarakat sains atau dengan kata lain masyarakat sains adalah orang-orang yang memiliki suatu paradigma bersama.

         Paradigma juga menunjukkan keanekaragaman individual dalam penerapan nilai-nilai bersama yang bias melayani fungsi-fungsi esensial ilmu pengetahuan. Fungsi dari paradigma adalah sebagai keputusan yuridiktif yang diterima dalam hukum yang tidak  tertulis. Pengujian suatu paradigma terjadi setelah adanya kegagalan secara berlarut-larut dalam memecahkan masalah yang menimbulkan krisis. Pengujian ini adalah bagian dari kompetisi diantara dua paradigma yang bersaingan dalam merebutkan kesetiaan masyarakat sains. Teori baru yang menang, akan mengalami verifikasi.

       Adanya perdebatan antar paradigma bukan mengenai kemampuan relative suatu paradigma dalam memecahkan masalah secara tuntas. Adanya jaringan yang kuat dari para ilmuwan sebagai peneliti konseptual teori instrument dan metodologi merupakan sumber utama yang menghubungkan dengan pemecahan berbagai masalah.[6]


[2] Louise Kattsoff.Pengantar Filsafat.Yogyakarta:Tiara Wacana.2006.hal 176-177

[3] Ibid

[4] Morton White, The Age Of Analysis. hal: 173

[6] http://defaultride.wordpress.com/2010/06/28/teori-teori-kebenaran-korespondensi-koherensi-pragmatik-struktural-paradigmatik-dan-performatik/

DAFTAR PUSTAKA

Bawengan, G.W.1983.Sebuah Studi Tentang Filsafat.Jakarta:PT. Pradnya Paramita.

Ewing, A.C.2003.Persoalan-Persoalan Mendasar Filsafat.Yogyakarta:Pustaka     Pelajar.

Kattsoff, Louis.2004.Pengantar Filsafat.Yogyakarta:Tiara Wacana Yogya.

Surajiyo. 2008.Ilmu Filsafat Suatu Pengantar.Jakarta:Bumi Aksara.

 

                http://filsafat-ilmu.blogspot.com/2008/01/teori-kebenaran.html

            http://www.scribd.com/doc/7385620/Tugas-Mata-Kuliah-Filsafat-Ilmu-dan-Etika-Ilmu-teori-kebenaran

            http://dewi.students-blog.undip.ac.id/tag/kebenaran/

            filsafat-ilmu.blogspot.com/2008/01/teorikebenaran.htm/

            http://defaultride.wordpress.com/2010/06/28/teori-teori-kebenaran-korespondensi-koherensi-pragmatik-               struktural-paradigmatik-dan-performatik/

Gambar

Fenomena bencana banjir sering terjadi dibeberapa kota diwilayah Indonesia saat musim penghujan tiba. Bencana banjir tidak asing lagi bagi masyarakat Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Setiap tahunnya bencana ini melanda ibukota Indonesia itu. Warga telah terbiasa dengan kehadiran banjir. Pencegahannyapun telah dilakukan oleh warga jauh hari sebelum banjir datang.  Nah bagaimana dengan daerah lain yang jarang sekali terkena bencana tersebut?

 

Banjir bandang di Wasior, Papua Barat. Banjir bandang yang terjadi beberapa waktu lalu tepatnya bulan Oktober 2011 telah menewaskan 134 orang korban dan ratusan lainnya mengalami luka berat dan ringan. Puluhan rumah ikut rusak. Banjir bandang Wasior juga mennyebabkan warga harus mengungsi keberbagai daerah termasuk Manokwari. Beberapa masyarakat menyatakan banjir bandang tersebut disebabkan penggundulan hutan oleh oknum-oknum tertentu disekitar Wasior. Sedangkan pihak pemerintah masih belum meyakini adanya isu tersebut. Pemerintah meyakini banjir bandang tersebut murni bencana alam.

 

Kesimpulan sementara yang dapat diambil bahwa banjir bandang di Wasior terjadi bisa karena perubahan iklim yang ekstrem, perubahan dari waktu ke waktu dari sisi global dan adanya perubahan iklim yang ekstrem yang juga memengaruhi curah hujan serta kontur alam yang ada disana.

 

Banjir bandang di China. Bencana ini terjadi pada bulan Juli 2010. Banjir bandang dan tanah longsor melanda beberapa provinsi dinegara China. Tanah longsor akibat hujan deras yang melanda beberapa wilayah di China, diantaranya provinsi Sichuan, Yajiang dibarat daya China, dan provinsi Hainan. Hujan deras sejak Selasa, 12 Juli 2010 menyebabkan tanah longsor sehingga menutup jalan tol dan memutus aliran listrik. Banjir juga mengganggu aliran air bersih. Sekitar 130.000 penduduk mengungsi ke berbagai daerah. Banjir bandang terburuk selama kurun waktu lima puluh tahun terakhir melanda provinsi Hainan China. Hujan lebat itu telah mengguyur 16 kota di Hainan selama satu minggu. Sebanyak 550 desa tergenang. Banjir bandang tersebut juga merenggut hampir 140 orang di Vietnam, 43 orang tewas, dan 23 lainnya dinyatakan hilang.

 

Selain banjir bandang di Wasior dan beberapa di wilayah China, juga melanda Thailand. Bencana tersebut menelan korban hampir 600 jiwa. Beberapa provinsi di negara tersebut digenangi air. Bencana banjir tersebut terjadi disebabkan hujan lebat pada pertengahan Juli. Walikota Bangkok meyakini bahwa air akan surut dalam waktu dekat. Pemerintah Thailand bekerjasama dengan pemerintah China  dalam bidang bencana untuk menanggulangi bencana banjir selanjutnya. Dari pihak China akan memberi bantuan pengamanan sungai Mekong dan membantu Thailand mengatasi banjir (19/11/2011).

 

Banjir yang terjadi akhir-akhir  ini dapat disebabkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab ataupun  murni bencana alam. Jika dilihat dari perbuatan manusia, banjir bisa diakibatkan karena penggundulan hutan, membuang sampah sembarangan, berkurangnya fungsi hutan karena polusi udara dimana-mana dan taman kota, atau bergesernya hutan yang hijau menjadi taman beton. Perbuatan akibat tangan manusia telah dijelaskan dalam firman Allah yang tertera dalam QS. Ar Rum:41 yang berbunyi:

 

41. ‚ÄúTelah nampak kerusakan didarat dan dilaut karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).‚ÄĚ

 

Juga dalam QS. Al Qashash: 77 berbunyi:

 

77. ‚ÄúDan carilah pada apa yang telah¬† dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan.‚ÄĚ

 

       Jika melihat dari dua ayat diatas jelaslah bahwa yang menyebabkan bencana itu berasal dari tangan manusia. Allah SWT menurunkan bencana sebagai akibat dari kerusakan yang disebabkan manusia itu sendiri. Bencana dari Allah dapat diartikan sebagai teguran atau murka. Tetapi sejauh ini manusia tidaklah sadar bahkan berpikir lebih jauh akibat selanjutnya yang akan diturunkan oleh Allah.

 

            Sebagai pendidik dalam bidang agama sebaiknya kita mengajarkan menjaga kelestarian alam kepada peserta didik sejak dini. Karena hal yang diterapkan sejak masa awal pertumbuhan akan banyak menyerap dampak positif. Selain itu, kita juga wajib memberi contoh cara menjaga alam dengan baik, misalnya menyosialisasikan reboisasi, ikut menggalakkan gerakan tanam satu juta pohon mulai dari lingkungan sekolah dan sekitarnya, dan mengajarkan kepada peserta didik untuk buang sampah pada tempatnya. Dengan tiga contoh diatas apabila dikembangkan lebih luas, insya Allah alam yang hijau dapat dirasakan kembali oleh anak cucu kita.

 

Ijo Royo-Royo

Posted: Mei 21, 2012 in Uncategorized

Ijo Royo-Royo

berlokasi di desa Tanjunganom, kecamatan Banyuurip, kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, Indonesia
foto diambil ketika sebulan setelah tanam padi

photo by Rizky Yuli Retnani

  1. A.   Pengertian Evaluasi dan Akreditasi
    1. Evaluasi atau penilaian dapat diartikan: ‚Äúsebagai proses pengukuran dan pembandingan daripada hasil-hasil pekerjaan yang nyatanya dicapai dengan hasil-hasil yang seharusnya dicapai.‚ÄĚ(Siagian,1977).
    2. Oteng Sutisna (1979): ‚ÄúPenilaian ialah mengukur dan menilai hasil-hasil dari program-program serta pelaksanaan-pelaksanaan untuk mengetahui betapa baik tujuan-tujuan telah tercapai dan berapa para guru dan personel lainnya telah tumbuh secara profesional.‚ÄĚ[1]
    3. Dalam arti luas, evaluasi adalah suatu proses merencanakan, memperoleh, dan menyediakan informasi yang sangat diperlukan untuk membuat alternatif-alternatif keputusan (Mehrens & Lehmann, 1978:5). Sesuai dengan pengertian tersebut maka setiap kegiatan evaluasi atau penilaian merupakan suatu proses yang sengaja direncanakan untuk memperoleh informasi atau data; berdasarkan data tersebut kemudian dicoba membuat suatu keputusan.[2]
    4. Akreditasi berdasarkan UU RI No. 20/2003 pasal 60 ayat (1) dan (3) adalah kegiatan yang dilakukan untuk menentukan kelayakan program dan satuan pendidikan pada jalur pendidikan formal dan non formal pada setiap jenjang dan jenis pendidikan berdasarkan kriteria yang bersifat terbuka. Kriteria tersebut dapat berbentuk standar seperti yang termaktub dalam pasal 35 ayat (1) yang menyatakan bahwa standar nasional pendidikan terdiri atas: standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan yang harus ditingkatkan secara berencana dan berkala.[3]
    5. Menurut wikipedia, akreditasi atau pentauliahan adalah suatu bentuk pengakuan pemerintah terhadaap suatu lembaga pendidikan swasta. Salah satu contoh akreditasi adalah akreditasi pada metode tes laboratorium dan sertifikasi spesialis yang diperbolehkan mengeluarkan sertifikat resmi suatu yang telah memiliki standar.[4]
    6. Akreditasi sekolah adalah suatu kegiatan penilaian kelayakan suatu sekolah berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan dan dilakukan oleh Badan Akreditasi Sekolah yang hasilnya diwujudkan dalam bentuk pengakuan peringkat kelayakan.[5]

 

  1. B.  Manfaat Evaluasi dan Akreditasi

Manfaat evaluasi program yaitu:

  1. Bagi pelaksana program berguna untuk dasar penyusunan laporan sebagai kelengkapan pertanggungjawaban tugas.
  2. Bagi lembaga atau badan yang membawahi pelaksana program mempunyai data yang akurat sebagai bahan pengambilan keputusan, khususnya untuk kepentingan supervisi.
  3. Bagi evaluator luar dapat bertindak dengan obyektif karena berpijak pada data yang dikumpulkan dengan cara-cara sesuai dengan aturan tertentu. [6]

Sedangkan kegunaan data evaluasi diklarifikasikan menjadi empat golongan sebagai berikut:

  1. Penggunaan Administratif
    1. Administrator dapat menggunakan hasil atau data evaluasi untuk melengkapi kartu catatan-catatan tingkah laku murid, minat, kecakapan, dan kartu kumulatif murid, dan menjadi suatu dasar bagi evaluasi pertumbuhan dan perkembangan individu atau pengelompokan kelas.
    2. Untuk melengkapi laporan-laporan kepada wali murid.
    3. Digunakan sebagai catatan-catatan objektif dan sistematis dari siswa jika seorang murid pindah kesekolah lain.
    4. Penggunaan instruksional
      1. Untuk membantu atau menolong guru dalam cara mengajar yang lebih baik.
      2. Untuk menentukan status kelas atau murid dalam hubungannya dengan tujuan-tujuan pokok kurikulum.
      3. Penggunaan bagi Bimbingan dan Penyuluhan
        1. Untuk memberikan bimbingan dan penaseharan terhadap siswa dalam hal pertumbuhan dan perkembangan fisk, mental, emosional, dan sosial seperti bimbingan dalam memili jurusan, memilih sekolah lanjutan, dan mengenal minat dan kecakapan sendiri.
        2. Bimbingan vocational terutama penting bagi sekolah lanjutan, seperti hal memilih jurusan atau lapangan pekerjaan yang sesuai dengan pribadi serta kemampuan siswa.
        3. Penggunaan bagi Penyelidikan

                        Digunakan bagi keperluan tjuan penyelidikan seperti dalam penyelidikan tentang bagaimana keefektifan mentode mengajar yang berbeda . Selain itu dapat juga digunakan dalam penyelidikan mengenai kesulitan-kesulitan belajar siswa, kecakapan, dan sifat-sifat pribadi dari siswa tertentu.[7]

Hasil akreditasi sekolah atau madrasah yaitu:

  1. Acuan dalam upaya peningkatan mutu sekolah/madrasah dan rencana pengembangan sekolah/madrasah.
  2. Umpan balik dalam usaha pemberdayaan dan pengembangan kinerja warga sekolah/madrasah dalam rangka menerapkan visi, misi, tujuan, sasaran, strategi, dan program sekolah/madrasah.
  3. Motivator agar sekolah/madrasah terus meningkatkan mutu pendidikan secara bertahap, terencana, dan kompetitif baik ditingkat kabupaten, provinsi, nasional bahkan regional dan internasional.
  4. Bahan informasi bagi sekolah/madrasah sebagai masyarakat belajar untuk meningkatkan dukungan dari pemerintah,masyarakat, maupun sektor swasta dalam hal profesionalisme, moral, tenaga, dan dana.
  5. Acuan bagi lembaga terkait dalam mempertimbangkan kewenangan sekolah/madrasah sebagai penyelenggara ujian nasional. [8]

 

  1. C.  Tujuan Evaluasi dan Akreditasi
    1. Tujuan Evaluasi
      1. Untuk mengumpulkan atau memperoleh data tentang hasil-hasil yang telah dicapai pada akhir suatu periode pelakssanaan program.
      2. Untuk mengetahui kesulitan atau hambatan yang dialami dalam pelaksanaan program.
      3. Untuk memperoleh dasar bagi pembuatan atau pengambilan keputusan dalam penyusunan langkah-langkah atau kebijakan yang akan ditempu dalam periode berikutnya.
      4. Untuk menghindari gangguan atau hambatan, serta menjamin efektivitas dan efisiensi kerja paada periode berikutnya.[9]
      5. Tujuan Akreditasi

Akreditasi seolah/madrasah bertujuan untuk:

  1. Memberikan informasi tentang kelayakan sekolah/madrasah atau program yang dilaksanakannya berdasarkan KTSP.
  2. Memberika pengakuan peringkat kelayakan, dan
  3. Memberikan rekomendasi tentang penjaminan mutu pendidikan kepada program dan atau satuan pendidikan yang diakreditasi dan pihak terkait.[10]
  4. D.  Ruang Lingkup Evaluasi dan Akreditasi
    1. Ruang lingkup Evaluasi Program

Ruang lingkup evaluasi ini akan menghubungkan apa dan berapa lama evaluasi akan dilaksanakan.

  1. Ruang lingkup evaluasi yang berhubungan dengan apa yang dievaluasi adalah meliputi elemen-elemen yang bersangkut paut dengan pelaksanaan pendidikan yaitu: kurikulum, strategi dan metode pembelajaran, alat-alat atau media, siswa dan guru. Maka kegiatan evaluasi ini memerlukan informasi mengenai:

1)      Tujuan diadakan program

2)      Strategi dan perencanaan

3)      Proses dan pelaksanaan

4)      Hasil dan dampak

  1. Berapa lama evaluasi dilakukan, maka jenis evaluasinya adalah:

1)¬†¬†¬†¬†¬† Short Term Evaluation, dilakukan sebagai kegiatan ‚Äúcheck up‚ÄĚ terhadap threatment yang baru yang diintrodusir. Waktu yang digunakan paling lama satu minggu.

2)      Medium Term Evaluation, dilakukan untuk mengevaluasi suatu proyek kurikilum yang dapat dilaksanakan antara satu sampai empat tahun.

3)      Long Term Survey, yaitu evaluasi yang dilakukan terhadap sekolah yang melakukan suatu program dengan menggunakan berbagai instrumen. Tujuannya adalah mengumpulkan data secara teus menerus tentang standar pencapaian tujuan pembelajaran disemua tingkat dan semua bidang pembelajaran.[11]

  1. Ruang Lingkup Akreditasi Sekolah

Sekolah yang diakreditasi meliputi Taman Kanak-Kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Luar Biasa (SLB), Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SMP), Sekolah Menengah Umum (SMU), dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), Perguruan Tinggi (PTN maupun PTS)

Komponen sekolah yang dinilai dalam akreditasi:

  1. Kurikulum atau proses belajar mengajar.
  2. Administrasi atau manajemen sekolah.
  3. Organisasi atau kelembagaan seklah.
  4. Sarana dan prasarana.
  5. Ketenagaan.
  6. Pembiayaan.
  7. Peserta didik atau siswa.
  8. Peserta masyarakat.
  9. Lingkungan sekolah.

Persyaratan sekolah yang diakreditasi yaitu:

  1. Memiliki surat keputusan kelembagaan unit pelaksana teknis (UPT) sekolah.
  2. Memiliki siswa pada semua tingkat kelas.
  3. Memiliki sarana dan prasarana pendidikan.
  4. Memiliki tenaga kependidikan.
  5. Melaksanaka kurikulum nasional.
  6. Telah menamatkan peserta didik.[12]

 

  1. E.  Langkah-Langkah Evaluasi dan Akreditasi
    1. Langkah-langkah Evaluasi

Secara umum langkah-langkah yang harus dilakukan evaluator dalam melakukan evaluasi pembelajaran, sistem atau program pendidikan menurut Brinkerhoff adalah sebagai berikut:

  1. Fokus evaluasi

Evaluator menentukan objek yang  akan dievaluasi, mengidentifikasi dan mempertimbangkan tujuan, lalu mempertimbangkan elemen-elemen penting yang akan diselidiki

  1. Perencanaan atau desain evaluasi

Evaluator membuat rencana, tujuan umum dan prosedur umum evaluasi.

  1. Pengumpulan informasi

Saat pelaksanaan evaluasi, evaluator harus menentukan sumber informasi seperti apa dan bagaimana informasi itu akan diperoleh. Selanjutnya adalah menganalisis informasi. Evaluator meverifikasi informasi dan kelengkapannya lalu memilih cara analisis yang sesuai. Setelah informasi dianalisis langkah berikutnya adalah pembuatan laporan. Evaluator harus mengidentifikasi siapa saja yang akan memperoleh laporan tersebut, bagaimana kerangka dan format laporan yang akan ditulis atau dikomunikasikan.

  1. Pengelolaan atau pemanfaatan hasil evaluasi

Pelaksanaan evaluasi bukan proses yang sederhana perlu pengelolaan dari segi manusia atau perilaku dan narasumber, prosedur, kontrak, biaya, pelaporan juga pertanggungjawaban.

  1. Meta evaluasi

Langkah terakhir yaitu meta evaluasi. Meta evaluasi berarti mengevaluasi suatu proses evaluasi. Meta evaluasi dilakukan oleh evaluator yang lebih tinggi.[13]

  1. Langkah-langkah Akreditasi Sekolah/Madrasah

Pelaksana akreditasi sekolah dilaksanakan oleh Badan Akreditasi Sekolah (BAS). BAS merupakan badan nonstruktural yang bersifat independen. BAS terdiri dari:

  1. BAS-Nasional yang berkedudukan di Jakarta dan dibentuk oleh Menteri Pendidikan Nasional.
  2. BAS-Provinsi yang berkedudukan di ibukota provinsi.
  3. BAS-Kabupaten/Kota yang berkedudukan di ibukota Kabupaten/Kota yang dibentuk oleh bupati/kota.

Akreditasi dilaksanakan melalui prosedur sebagai berikut:

  1. Pengajuan permohonan akreditasi dari sekolah.
  2. Evaluasi diri oleh sekolah.
  3. Pengolahan hasil evaluasi diri.
  4. Visitasi oleh asesor.
  5. Penetapan hasil akreditasi.
  6. Penerbitan sertifikat dan laporan akreditasi.

Dalam mempersiapkan akreditasi, sekolah atau madrasah melakukan langkah-langkah sebagai berikut: sekolah mengajukan permohonan akreditasi kepada Badan Akreditasi Provinsi atau kepada Unit Pelaksana Akreitasi (UPA) kabupaten/kota. Untuk TK dan SD pengajuan akreditasiyang dilakukan oleh sekolah harus mendapat persetujuan atau rekomendasi dari Dinas Pendidikan. Setelah menerima instrumen evaluasi diri, sekolah perlu memahami bagaimana bagaimana menggunakan instrumen dan melaksanakan evaluasi diri. Apabila belum memahami, sekolah dapat melakukan konsultasi kepada BAN-SM mengenai pelaksanaan dan penggunaan instrumen tersebut. Mengingat jumlah data dan informasi yang dperlukan dalam proses evaluasi diri cukup banyak, maka sebelum pengisian instrumen evaluasi diri, perlu dilakukan pengumpulan berbagai dokumen yang diperlukan sebagai sumber data dan informasi.

Masa berlaku akreditasi selama empat tahun. Permohonan akreditasi ulang enam bulan sebelum masa berlaku habis. Akreditasi ulang untuk perbaikan diajukan sekurang-kurangnya dua tahun sejak ditetapkan. Hasil akreditasi berupa:

  1. Sertifikat Akreditasi Sekolah adalah surat yang menyatakan pengakuan dan penghargaan terhadap sekolah atas status dan kelayakan sekolah melalui proses pengukuran dan penilaian kinerja sekolah terhadap komponen-komponen berdasarkan standar yang ditetapkan BAN-SM untuk jenjag pendidikan tertentu.
  2. Profil Sekolah, kekuatan dan kelemahan, dan rekomendasi.

Menetapkan hasil akreditasi yaitu laporan tim asesor yang memuat hasil visitasi, catatan verifikasi, dan rumusan saran bersama dengan hasil evaluasi diri akan diolah oleh BAN-S/M untuk menetapkan nilai akhir dan peringkat akreditasi sekolah sesuai dengan kondisi nyata di sekolah. Penetapan nilai akhir dan peringkat akreditasi dilakukan melalui rapat pleno BAN-SM sesuai dengan kewenangannya.

            Rapat pleno penetapan hasil akhir akreditasi harus dihadiri oleh sekurang-kurangnya lima puluh persen ditambah satu (50 % + 1) anggota BAN-SM Nilai akhir dan peringkat akreditasi juga dilengkapi dengan penjelasan tentang kekuatan dan kelemahan masing-masing komponen dan aspek akreditasi, termasuk saran-saran tindak lanjut bagi sekolah, Dinas Pendidikan, maupun Departemen Pendidikan Nasional dalam rangka peningkatan kelayakan dan kinerja sekolah di masa mendatang. Penjelasan kualitatif dan saran-saran harus merujuk pada hasil temuan dan bersifat spesifik agar mempermudah pihak sekolah untuk melakukan pengembangan dan perbaikan internal dan pihak terkait (pemerintah daerah dan dinas pendidikan) melakukan pemberdayaan dan pembinaan lebih lanjut terhadap sekolah.[14]

 

  1. F.   Prinsip Akreditasi Sekolah

Prinsip-prinsip yang dijadikan pijakan dalam melaksanakan akreditasi sekolah/ madrasah adalah:

  1. Objektif

                         Agar hasil penilaian itu dapat menggambarkan kondisi yang sebenarnya untuk dibandingkan dengan kondisi yang diharapkan maka dalam prosesnya digunakan indikator-indikator terkait dengan kriteria-kriteria yang ditetapkan.

  1. Komprehensif

                         Dalam pelaksanaan akreditasi sekolah/madrasah, fokus penilaian tidak hanya terbatas pada aspek-aspek tertentu saja tetapi juga meliputi berbagai komponenpendidikan yang bersifat menyeluruh.

 

 

  1. Adil

Semua sekolah/madrasah harus diperlakukan sama dengan tidak membedakan sekolah/madrasah atas dasar kultur, keyakinan, sosial budaya, dan tidak memandang status sekolah/madrasah baik negeri ataupun swasta. 

  1. Transparan

Data dan informasi yang berkaitan dengan pelaksanaan akreditasi sekolah/madrasah seperti kriteria, mekanisme kerja, jadwal serta sistem penilaian akreditasi dan lainnya harus disampaikan secara terbuka dan dapat diakses oleh siapa saja yang memerlukannya.

  1. Akuntabel

 Pelaksanaan akreditasi sekolah/madrasah harus dapat dipertanggungjawabkan baik dari sisi penilaian maupun keputusannya sesuai dengan aturan dan prosedur yang telah ditetapkan.

  1. Profesional

Pelaksanaan akreditasi sekolah/madrasah dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kompetensi dan integritas yang tinggi.[15]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


[1] Nur Munajat,Handout Administrasi Pendidikan,2011, hal.32

[2] Ngalim Purwanto,Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran,(Bandung:Rosda Karya),2006, hal.3

[4] http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Akreditasi&oldid=4715421” diakses tanggal 5 Mei 2012,jam 16.15 WIB.

[5] Ibid, Nur Munajat…hal 35

[6] Ibid, Nur Munajat….hal 33

[7] Ibid, Ngalim Purwanto….. hal.13-15

[9] Ibid,

[10] Ibid,

[11] Ibid, hal 33

[12] Ibid hal. 35

[14] Ibid,